Berita paling mengejutkan terjadi pada akhir Februari 2019, tanpa disangka tanpa diduga kami sekeluarga harus kehilangan mama yang paling kami cintai. Sedih itu sudah pasti, berat untuk menerima hal ini karena tanpa diduga mama langsung pergi meninggalkan kami begitu saja tanpa memberikan tanda-tanda.
Mama di rumah Palembang untuk terakhir kalinya |
Sangat terkejut ketika entah kenapa subuh 28 Februari itu tiba-tiba terbangun dan membuka hp melihat isi pesan WA grup keluarga dan ada informasi bahwa mama meninggal. Seakan tersambar petir seketika, dan seakan tidak percaya saya pun memberanikan diri menelpon ke hp mama dan tidak diangkat. Kemudian lanjut menelpon papa dan ternyata yang mengangkat saudara dan menyatakan benar mama telah tiada.
Peti mama |
Seakan masih tidak percaya, berita pun semakin cepat menyebar sehingga saya pun harus mengambil tindakan dengan cepat. Akhirnya saya dan saudara pun memutuskan untuk segera pulang ke Palembang siang itu.
Setibanya di rumah keadaan sudah ramai dan isak tangis pun pecah melihat mama yang sangat saya cintai terbujur kaku di depan mata.
Tidak ada yang menduga mama meninggalkan kami secepat itu, dan tidak memberikan tanda-tanda. Malam 27 Februari 2019 beliau bahkan masih mengikuti ibadah persekutuan doa wilayah gereja, akan tetapi menurut penuturan teman-teman beliau saat acara mama sedikit tidak enak badan dan muntah-muntah.
Akhirnya Papa pun datang menjemput ke tempat acara dan segera membawa mama pulang ke rumah. Akan tetapi setibanya di rumah mama kembali muntah. Alhasil Papa kemudian memanggil tante yang juga seorang perawat di RS Charitas Palembang untuk membantu membawa mama ke RS untuk segera mendapatkan perawatan. Hanya saja setelah dibawa ke RS, 2 jam kemudian mama pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.
Sedih yang teramat dalam tentu saja terasa amat sangat mendalam, akan tetapi saya selalu percaya Firman Allah dalam Alkitab yang tertulis :
TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN (Ayub 1:21 B)
Dari Firman Allah tersebut saya belajar untuk mengikhlaskan bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Allah kepada kita umat-Nya. Dan akhirmya saya dan keluarga harus mengikhlaskan mama pergi untuk selamanya.
Pemberangkatan dari Palembang menuju Medan |
Akhirnya 1 Maret 2019 pun diputuskan untuk membawa mama menuju Bona Pasogit sesuai dengan permintaan mama yang ternyata pernah diungkapkan secara tersirat kepada teman-teman persekutuan wanita di gereja. Hal ini baru terungkap ketika pendeta menmberikan kata penghiburan kepada keluarga yang menyatakan bahwa mama dipilih untuk menjadi ketua persekutuan wanita di gereja, akan tetapi mama menolak dengan alasan bahwa mama akan pulang kampung ke Medan untuk membangun rumah disana. Dan ternyata inilah arti dari rumah tersebut, yaitu rumah abadi di surga.
Di Mobil Jenazah dari Kuala Namu Medan menuju Tanah Jawa |
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Tanah Jawa (16 KM dari Siantar) untuk membawa mama ke rumah Papa di kampung. Sesampainya disana sudah banyak keluarga yang menanti dan juga ingin melihat mama dari dekat untuk terakhir kalinya.
Acara pun dilanjutkan hingga datanglah ulos saput sebagai perpisahan untuk mama yang digunakan untuk mengganti ulos yang sudah dipasang sebelumnya sebagai ungkapan cinta dari para pengantar mama di kampung.
ULOS SAPUT |
Tante membawa tandok |
Dengan berlangsungnya acara adat SARIMATUA di kampung, maka acara pun berlangsung ke acara gereja untuk tutup peti dan membawa mama ke makam
Dan setelah 2 hari, sebelum kembali ke rutinitas kami masing-masing, maka kami segera membangun pertanda makam untuk mempercantik rumah peristirahatan terakhir untuk mama.
Sekarang kami sudah tidak memiliki mama lagi, akan tetapi mama mewariskan hal-hal positif kepada kami untuk diteruskan kepada orang lain. Tenanglah engkau disana ma bersama Tuhan Yesus di Surga, kami akan terus menjadi seperti yang engkau inginkan. JBU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar